Entah bagaimana dalam pemaknaan orang kristen di Indonesia, seolah-olah ada sebuah hierarki antara cinta dan kasih. Dalam bahasa inggris, hierarki tersebut tidak terlihat karena hanya ada satu kata untuk mendeskripsikannya, love. Beberapa dari kita merasa bahwa cinta itu fana, tidak dapat dikenakan untuk mengekspresikan perasaan dan kerinduan kita pada Sang khalik. Hal sebaliknya justru terlihat dalam kitab Kidung Agung. Perasaan antara dua insan dirayakan, bahkan disakralkan.
Cinta punya nilai yang otentik dan berharga dalam cara manusia mendefinisikan dirinya bersama dengan sesama. Hal ini terlihat melalui bacaan kita kali ini. Cinta digambarkan begitu kuat, bahkan setara dengan maut. Sebagaimana maut tidak dapat ditolak oleh siapa pun, demikian pula kekuatan cinta yang sejati tidak dapat dihentikan atau dihindari. Kematian cukup kuat untuk membuat setiap orang tunduk padanya; cinta pun demikian.
Kekuatan cinta datang, salah satunya dari kemampuannya membangun komitmen terhadap orang yang dicintainya. Hal ini sekaligus menjadi sebuah kritik yang menghujam kedangkalan penghayatan cinta di dunia modern. Kita cenderung mengaburkan cinta dengan perasaan sesaat yang mendatangkan kenyamanan. Sehingga banyak orang mengakui mencintai tetapi tidak mampu berkomitmen.
Sahabat Alkitab, hiduplah dalam cinta yang dirayakan bersama orang-orang di sekitar kita. Cinta yang dimiliki seseorang yang sudah merasakan kasih Tuhan adalah cinta yang berani mengambil resiko dan merayakannya dalam kehangatan, meski terkadang jalan untuk mencintai menjadi begitu berat.
























