Adakah dari antara kita yang hobi berkebun? Benih dipilih dengan seksama. Ditanam dan diperhatikan segala sesuatunya agar tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik serta berbuah sesuai yang diharapkan. Namun saat harinya tiba rupanya tanaman itu tumbuh tidak sesuai ekspektasi atau ada peristiwa mendadak yang membuat tanaman itu tumbuh tidak semestinya. Pastilah ada perasaan kecewa dan sedih disaat yang bersamaan. Bayangkanlah jika pemilik kebun anggur itu adalah Tuhan dan kitalah kebun anggur yang seringkali mengecewakan itu.
Pada bacaan kita kali ini, Nabi Yesaya menyampaikan nubuatnya yang bersifat kiasan. Tuhan disebut sebagai “kekasihku” yang memiliki kebun anggur yang indah sekali. Lokasinya mendukung untuk bercocok tanam. Ia menjaga dan merawat dengan sangat baik. Namun ternyata buah anggur yang dihasilkan tidak sesuai harapan karena menghasilkan buah anggur yang asam. Beberapa penafsir menghubungkan situasi tersebut sebagai relasi perjanjian yang telah dilanggar Israel. Allah telah menyediakan segala kondisi ideal bagi Israel untuk hidup benar. Namun hasilnya mereka menjauh dari Tuhan dan melakukan apa yang tidak benar di hadapan-Nya. Mengapa Yehuda menjadi anggur yang asam? Allah tidak mendapati keadilan dan hanya kelaliman. Dinantinya kebenaran tetapi hanya ada keonaran. Perhatikan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Ibrani: Allah mengharapkan kebenaran (mishpat) dan keadilan (tsedaqah), tetapi yang ditemuiNya adalah kelaliman (mishpakh) dan keonaran (tse’aqah).
Sang Pemilik Kebun Anggur seolah-olah telah kehabisan akal menghadapi apa yang terjadi pada kebunnya. Mereka merasa bisa tumbuh tanpa adanya campur tangan sang pemilik. Sampai suatu waktu Tuhan sebagai sang pemilik untuk mendekonstruksi total kebun tersebut. Pagar ditebang dan awan-awan dihalau agar tidak menurunkan hujan. Proses pembentukan kembali ini mungkin menyakitkan, tetapi diperlukan agar kebun itu kembali kepada yang awalnya dirancangkan kepadanya. Sebagaimana Yehuda yang juga menerima penghukuman dan pemurnian, bukan untuk menghancurkannya melainkan untuk membentuk kembali agar sesuai yang dikehendaki-Nya.
Mungkin Allah saat ini juga tengah mendidik kita. Bukan untuk membinasakan kita melainkan mendidik dalam kebenaran. Kita adalah buatan Allah maka Allah menghendaki kita agar menjadi seturut serta sesuai dengan kehendak-Nya. Kadangkala, Proses pembentukan tersebut tidaklah nyaman tetapi berserahlah kepadaNya karena Tuhan menghendaki yang terbaik bagi kita ciptaan-Nya
























