Sandaran Hidup

Renungan Harian | 28 Mei 2026

Sandaran Hidup

Belakangan ini kita semakin sering melihat bagaimana rasa tidak aman menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di berbagai tempat, berita tentang meningkatnya kriminalitas, termasuk begal di beberapa titik, tindak kekerasan jalanan, dan berbagai peristiwa yang terekam serta tersebar cepat di media sosial, membuat orang makin waspada dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Di tengah situasi seperti ini, wajar jika manusia mulai menyadari pentingnya memperketat keamanan, mengandalkan jaringan relasi, menghindari risiko, dan beberapa upaya dilakukan demi keamanan. Di saat seperti ini, manusia cenderung mencari sesuatu yang dapat dijadikan sandaran, sesuatu yang tampak stabil di tengah dunia yang terus berubah.

 

Yesaya 17 berbicara dalam lanskap seperti ini. Teks ini muncul di tengah Krisis Syro-Efraim pada abad ke-8 SM, ketika Damsyik (Aram) dan Israel Utara (Efraim) membentuk aliansi politik untuk menghadapi ancaman Kekaisaran Asyur. Aliansi itu lahir bukan dari kedamaian, melainkan dari ketakutan. Yehuda sendiri ditekan untuk ikut bergabung, tetapi menolak. Dalam kacamata Yesaya, yang sedang terjadi bukan sekadar manuver geopolitik, melainkan krisis kepercayaan: bangsa-bangsa mulai menggantungkan keselamatan pada strategi dan kekuatan yang mereka bangun sendiri.

 

Secara sosial, Israel Utara juga mulai mengadopsi pola hidup dan religiositas asing yang menjanjikan hasil cepat dan stabilitas instan. Gambaran “kebun yang indah” menjadi simbol dari kehidupan yang dikejar secara pragmatis, tetapi perlahan kehilangan akar spiritual dan etisnya. Yang tampak sebagai upaya bertahan hidup justru menjadi tanda pergeseran arah hati. Di titik inilah Yesaya menegaskan inti pesannya: “engkau telah melupakan Allah yang menyelamatkan engkau, dan tidak mengingat gunung batu kekuatanmu” (ay. 10). Ini bukan sekadar teguran, tetapi upaya Yesaya membongkar ilusi keamanan yang mereka buat. Apa yang dianggap kuat ternyata tidak selalu mampu menopang hidup ketika guncangan datang. Tidak semua yang tampak stabil benar-benar dapat diandalkan, banyak sandaran hidup terlihat kuat sampai ia diuji oleh waktu dan krisis.

 

Sahabat Alkitab, Yesaya 17 mengajak kita untuk bertanya dengan jujur: ketika ketidakpastian hidup menghampiri, ke mana hati kita akan bersandar? Mungkin ada banyak pilihan yang tampak meyakinkan dan masuk akal menurut perhitungan manusia, dan semuanya terlihat mampu memberi rasa aman untuk sementara. Namun pada akhirnya, setiap sandaran selain Tuhan memiliki batasnya. Karena itu, iman dipanggil untuk kembali kepada Sang Gunung Batu, satu-satunya sandaran hidup yang tidak goyah oleh perubahan zaman, dan tidak runtuh oleh krisis apa pun yang datang menghampiri. 

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia