Jikalau hidup seseorang bagaikan bangunan, maka serangkaian peristiwa, respons dan perencanaan yang dibuat seseorang merupakan bagian demi bagian bahan bangunan yang tersusun dengan rapi serta indah. Kini bayangkanlah sesuatu yang tidak terduga terjadi dan meluluhlantakkan seluruh bangunan tersebut. Bukankah itu yang terjadi saat pergumulan yang begitu berat terjadi dalam kehidupan kita. Sehingga manusia diundang untuk terus merefleksikan peristiwa-peristiwa kehidupan dalam terang kasih pemeliharaan Allah.
Penduduk Yerusalem juga tidak pernah menyangka bahwa tanah air mereka akan diluluhlantakkan. Secara historis pasal 22 merefleksikan situasi saat Yerusalem dikepung rapat-rapat oleh tentara Asyur. Akan tetapi pada saat-saat yang kritis serta menentukan, tentara tersebut ditarik untuk menghadapi pertempuran di daerah yang lain. Seketika itu juga Yerusalem bersorak-sorai, tetapi Yesaya melihat gejala yang memprihatinkan. Bahwa bangsa tersebut hanya mengandalkan diri mereka sendiri.
Allah menyampaikan kepada Yesaya bahwa kehancuran dalam dimensi yang lain akan menghampiri Yehuda. Para pemimpin dan panglima perang hanya peduli pada keselamatan dirinya sendiri, meskipun akhirnya mereka tetap binasa dan menuju kebinasaan. Banyak orang mengalami kematian karena kemiskinan. Dosa telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka dari itu kehancuran akan tiba menghampiri Israel. Namun apa yang kelak akan terjadi tersebut bukan karena Allah tidak lagi mengasihi Israel, melainkan Ia menginginkan umat-Nya kembali memandang-Nya dengan sepenuh hati serta hidup dalam pertobatan.
Maka marilah kita dengan penuh kesadaran berefleksi akan apa yang telah terjadi dalam hidup kita. Barangkali situasi berat dan tantangan yang hadir dalam hidup kita justru menjadi cara Allah untuk mendidik serta mendewasakan iman kita. Satu hal yang dapat kita pegang adalah janji serta penyertaan Tuhan yang senantiasa tidak pernah diingkari-Nya. Itulah iman yang dewasa, saat kita betul-betul menyadari keberadaan Tuhan baik dalam suka maupun duka, tawa atau tangis.

























