Sungguh sebuah keprihatinan yang mendalam saat melihat kondisi kepemimpinan bangsa akhir-akhir ini. Mereka yang memegang jabatan kepemimpinan publik justru menyelewengkannya demi kekayaan dan kekuasaan. Korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi masalah pelik yang tidak kunjung terselesaikan. Masyarakat sudah sampai pada titik melazimkan sesuatu yang seharusnya meresahkan secara moral. Lantas apakah sikap kita sebagai pengikut-pengikut Tuhan?
Bacaan kita kali ini mungkin dapat memberikan gambaran atas apa yang Allah kehendaki. Pasal 22:15-25 mengisahkan pergantian kekuasaan pejabat pengurus istana yakni antara Sebna dengan Elyakim. Rupanya Sebna didapati melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Ia memakai jabatan dan posisinya untuk mengamankan serta memperkaya dirinya sendiri beserta keluarganya. Bahkan Yesaya menjumpainya di sebuah lokasi, di mana Sebna sedang mengawasi tempat kuburan bagi dirinya sendiri. Di tengah krisis nasional menghadapi serangan dari Asyur, Sebna hanya memikirkan kemuliaan bagi dirinya sendiri saja: kuburan yang mewah dan agung. Teguran keras dari Allah disampaikan kepada Sebna melalui Yesaya.
Elyakim yang menggantikan Sebna pada mulanya memulai karier dengan cemerlang. Ia tampak seperti sosok yang berbeda jauh dari pendahulunya. Dia menggunakan kuasa tersebut dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya. Namun menariknya gambaran yang positif tentang Elyakim tiba-tiba berubah di ayat 25. Jika sebelumnya keteguhan Elyakim digambarkan sebagai “patok tembok yang kokoh” di ayat 23, pada ayat 25 berubah menjadi “patok akan patah dan jatuh.” Banyak penafsir menduga bahwa ia terjatuh pada beban untuk “mensejahterakan keluarganya”. Memberi mereka berbagai jabatan atau dengan kata lain jatuh kepada “nepotisme”.
Sahabat Alkitab, marilah kita mengingat senantiasa bahwa hidup benar di hadapan Tuhan tidak hanya mencakup tindakan-tindakan ritualistik, melainkan pula cara kita menjaga integritas dalam seluruh laku hidup kita. Kiranya kita dapat berlatih untuk menggunakan kuasa dan wewenang yang kita miliki pada tempatnya dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita berlaku serupa dengan para pejabat yang kita kecam itu dengan segala kejahatan dan penyelewengan kuasa yang mereka lakukan. Marilah berlatih hidup kudus di hadapan-Nya dengan menjaga betul tingkah laku serta tindakan kita.
























