Kesombongan yang ada pada diri seseorang seringkali terlahir dari caranya yang berlebihan dalam menempatkan sesuatu dalam kehidupannya, seperti misalnya jabatan, relasi, kuasa, dan kekayaan. Seorang yang bijak adalah mereka yang dapat menolak segala godaan-godaan untuk menggantungkan keberadaan serta harga dirinya terhadap hal-hal tersebut. Dengan kata lain menjadi rendah hati dan mengandalkan Tuhan semata.
Yesaya 23:1-18 mencoba untuk menyasar pergulatan klasik dalam kemanusiaan kita yakni kesombongan. Tirus dan Sidon pada akhirnya juga dihukum Tuhan. Keduanya adalah kota penting di masa lampau yang berfungsi sebagai pusat perdagangan. Rujukan kepada “kapal tarsis” yang berasal dari Mediterania kuno menunjukkan pentingnya Tirus bagi perdagangan dunia. Sementara itu Sidon turut terhubung dalam jalur perdagangan tersebut.
Pada akhirnya Tuhan pun merendahkan kota-kota yang megah itu. Para penduduknya merasa bahwa dalam segala kemajuan itu mereka tidak lagi membutuhkan Allah. Keruntuhan Tirus dan Sidon menjadi sebuah keniscayaan. Allah sendiri yang menjatuhkannya. Mereka diajak untuk belajar bahwa tidak boleh ada satu entitas pun yang berhak meninggikan dirinya di hadapan Allah.
Berefleksi dari ayat ini kita seperti diperhadapkan pada gerak kehidupan dunia modern yang juga sering menganggungkan harta, kekayaan, dan keuntungan bagaikan ilah baru yang harus disembah. Orang-orang mengarahkan dirinya kepada hal-hal tersebut sehingga melupakan tugas dan kewajibannya yang utama yakni menyembah dan berbakti kepada Allah semata. Allah sesungguhnya tidak menentang seseorang untuk menjadi kaya atau berkecukupan, tetapi saat kekayaan itu menjadi alasan bagi kesombongannya maka disitulah murka Allah tertuju.
























