Indonesia sering disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat religiositas yang tinggi. Rumah-rumah ibadah ramai, kegiatan keagamaan berlangsung sepanjang tahun, dan berbagai bentuk ibadah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, di tengah kehidupan yang religius itu, kita masih berhadapan dengan korupsi, ketidakadilan, kekerasan, dan lunturnya kepedulian terhadap sesama. Mengapa kehidupan yang begitu religius tidak selalu menghasilkan kasih yang nyata?
Pertanyaan serupa telah muncul sejak zaman Yesaya. Setelah kembali dari pembuangan Babel, umat Israel kembali menjalankan puasa dan berbagai praktik ibadah. Mereka merasa telah sungguh-sungguh mencari Tuhan, tetapi bertanya, “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya?” (ay. 3). Mereka merasa telah melakukan semua kewajiban rohani, tetapi tidak melihat jawaban Allah atas pergumulan mereka.
Melalui Yesaya, Allah menyingkap akar persoalannya. Masalahnya bukan karena mereka kurang beribadah, melainkan karena ibadah mereka berhenti pada ritual. Di balik puasa yang mereka jalankan, masih ada penindasan, pertengkaran, dan ketidakpedulian terhadap orang miskin. Karena itu, Allah menyatakan bahwa puasa yang dikehendaki-Nya adalah membebaskan yang tertindas, memberi makan yang lapar, menolong yang miskin, dan memperhatikan mereka yang berkekurangan (ay. 6-7). Ibadah yang sejati selalu menghadirkan kasih dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah Yesaya membongkar cara berpikir yang keliru tentang ibadah. Ibadah bukanlah transaksi untuk memperoleh berkat, melainkan perjumpaan dengan Allah yang mengubah hidup. Ketika hati diubahkan, cara kita memandang dan memperlakukan sesama pun ikut berubah. Itulah sebabnya Allah menjanjikan terang, pemulihan, dan damai bagi mereka yang hidup sesuai dengan kehendak-Nya (ay. 8-11).
Sahabat Alkitab, ibadah tidak berhenti ketika doa selesai diucapkan atau ketika kita melangkah keluar dari rumah, sebab pada akhirnya, ibadah yang sejati bukan sekadar tentang seberapa sering kita melakukannya, melainkan seberapa jauh perjumpaan kita dengan Tuhan mengubah hidup kita menjadi saluran kasih, keadilan, dan belas kasih bagi sesama.
























