Betapa banyaknya kita seringkali menunjuk dan meletakkan tanggung jawab pada orang lain atas situasi yang terjadi dalam kehidupan kita. Padahal setiap pergumulan dan tantangan kehidupan yang kita alami selalu membuka ruang untuk berefleksi dan melakukan introspeksi atas apa yang telah kita perbuat. Jangan-jangan ada peran diri kita yang besar atas persoalan yang terjadi.
Inilah yang juga terjadi pada Yehuda. Mereka merasa bahwa dalam kesusahan serta kesulitan yang terjadi. Mereka merasa bahwa tangan Tuhan seolah kurang panjang untuk menggenggam mereka dan pendengaran Tuhan tidak dapat mendengar seruan minta tolong dari Yehuda. Disanalah Yesaya mengundang umat untuk melihat kembali kepada apa yang mereka lakukan. Justru perbuatan jahat dan dosa merekalah yang membuat itu semua terjadi sehingga mereka tidak mampu untuk melihat kasih karunia Allah. “Kaki mereka cepat untuk melakukan kejahatan, mereka bersegera menumpahkan darah orang tak bersalah,” demikianlah diperjelas dosa serta kesalahan Yehuda. Berbeda dengan rancangan Allah yang adalah kebaikan serta damai sejahtera, rancangan mereka merupakan kejahatan serta kebinasaan. Kebenaran, kebaikan, dan keadilan adalah kualitas-kualitas nilai yang tidak ada sama sekali pada Yehuda.
Namun apa yang terjadi pada Yehuda bukanlah kata akhir. Selalu ada ruang untuk perubahan serta perbaikan. Semuanya dimulai dari kesadaran untuk bertobat dan berbalik kepada Allah. Saat itu terjadi maka Allah akan membuat Yehuda menjadi kebanggaan abadi dan kegirangan turun-temurun (ay.15). Pemulihan terjadi dan dimulai dari diri sendiri yang mendorong batas-batas perubahan serta transformasi. Maka dari itu saat ada persoalan dan tantangan terjadi mulailah dengan menoleh sebentar kepada kehidupan kita dan memulai hal-hal baik sebagai ganti dari kesalahan yang pernah kita lakukan.

























