Setiap manusia yang hidup di dunia ini sebaiknya menjalani kehidupannya dengan tujuan atau visi tertentu atas hidupnya. Mereka yang tidak memiliki pandangan serta prinsip akan masa depannya, bisa saja terombang-ambing dalam godaan serta arus dunia yang tidak menentu. Sebagai anak-anak Allah, visi dan tujuan hidup tersebut selaras dengan visi serta tujuan yang ditetapkan-Nya.
Inilah yang hendak Allah tegaskan melalui nubuatan Nabi Yesaya. Bangsa tersebut memang pernah mengalami penghukuman yang begitu berat. Mereka berada dalam kegelapan sebagai representasi atas dosa, kebimbangan moral, dan kepemimpinan yang tidak terpaut kepada Allah. Kini Yerusalem berada dalam terang tetapi terang itu bukan karena mereka sendiri melainkan karena Allah yang menjadi nyata lewat pemulihan serta kehidupan Israel. Maka kini mereka dipanggil untuk bangkit dan melihat realitas baru yang disediakan Allah.
Dalam sistem masyarakat Israel yang begitu erat ikatan kekerabatannya maka bersatunya seluruh anggota keluarga serta suku yang ada merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak terkira, maka pemulihan yang kelak dikerjakan Allah juga termasuk bersatunya suku-suku Israel dengan kembali pulangnya suku-suku Israel yang telah terpecah belah. Inilah pengharapan yang akan disediakan Allah dan bangsa Israel diperintahkan untuk menetapkan serta menjalani visinya berdasarkan apa yang hendak dinyatakan-Nya.
Sahabat Alkitab, marilah kita merumuskan dan menata hidup kita dengan senantiasa melibatkan Allah di dalam-Nya. Visi itu tersedia dalam bagian rencana Allah yang besar atas semesta. Yakinlah bahwa selalu ada pengharapan dan pembebasan dalam segala sesuatu yang Tuhan kerjakan. Banyak ketidakpastian di dunia ini, tetapi cinta kasih Allah tidak termasuk di dalamnya.
























