Pernahkah kita berada dalam kondisi yang begitu terpuruk? Sesak rasanya mengetahui segala kekacauan yang membuat kita tidak berdaya. Namun di saat yang sama hati dan logika kita berusaha untuk mencerna itu semua dan memperhadapkannya dengan iman kita kepada Tuhan. Apakah yang hendak diajarkan-Nya melalui peristiwa ini? Apakah ada peran dari kekeliruan yang kulakukan terhadap apa yang terjadi sekarang? Seringkali kita memang tidak menemukan jawabannya saat itu juga, tetapi dalam waktu yang terus bergulir ternyata Allah menyingkapkan kebaikan dan cinta kasih-Nya kepada kita.
Itulah yang coba disingkapkan Allah melalui Yesaya di dalam pasal 43. Israel memang telah menderita sekian lamanya karena kesalahan mereka sendiri. Namun itu tidak pernah berarti bahwa Allah telah meninggalkan mereka. Dengan lembut Allah mengundang umat-Nya untuk tidak takut dan gentar (ay. 1). Kini Allah telah mengerjakan penebusan-Nya, bahkan air dan api tidak akan menjadi penghalang bagi Israel. Sebuah lambang dari penderitaan yang tidak terperikan, tetapi bisa dilewati dengan mudah jika bersama dengan Allah.
Sekali lagi Allah mengundang bangsa-bangsa untuk bersaksi dan menunjukkan kepada Israel siapakah Allah yang sejati. Rupanya hanya Allah sajalah yang menjadi Tuhan atas semesta. Kata-Nya, “Juga untuk seterusnya Akulah Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?” Jika Allah berkehendak segala sesuatu menjadi mungkin. Israel seolah-olah diingatkan kembali akan kisah penyertaan Allah dalam pembebasan dari tanah Mesir pada ayat 14-21. Namun bedanya pembebasan yang kini dikerjakan Allah akan jauh lebih dahsyat dari peristiwa masa lampau tersebut. Sekali lagi ini semua muncul dari inisiatif dan kehendak Allah untuk menyelamatkan Israel, bukan karena jasa-jasa Israel.
Maka dari itu penting bagi umat beriman di sepanjang masa untuk mengingat Tuhan yang tidak pernah sekalipun meninggalkan kita. Kehidupan mungkin tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, tetapi Allah selalu hadir untuk menyertai kita. Inisiatif penyelamatan selalu datang dari Allah, termasuk bagaimana Ia menata kembali kehidupan kita yang mungkin dalam kondisi porak poranda. Namun ada sedikit peran kita dalam hal ini yakni dengan mempercayai-Nya sepenuh hati dan tidak menduakan-Nya dengan apapun. Allah menginginkan agar kita bergantung dengan sepenuh hati kepada-Nya.
























