Bagi bangsa Israel, kredo atau pengakuan iman bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan bagi Israel memiliki konsekuensi yang serius dan utuh dalam kehidupan. Pengakuan tersebut bukan hanya sebentuk ritual, melainkan pula kesediaan untuk menempatkan dan melibatkan Allah sebagai satu-satunya penguasa dalam kehidupan. Bukan kehendak seorang manusia yang terjadi dan menjadi pandu, melainkan kehendak Allah semata.
Pasal 44 semacam traktat yang mengingatkan kembali Israel akan perjalanan Allah bersama umat-Nya yang abadi dan tidak berkesudahan. Selayaknya relasi-relasi yang lainnya, relasi Allah dengan umat-Nya juga begitu dinamis. Dimulai dari sapaan yang lembut kepada Israel. Allah bagaikan ibu yang mendekap Israel dalam kandungan. Dengan sapaan yang khas dipanggil-Nya Israel yakni Yesyurun (yang jujur atau yang dikasihi). Setelah itu Allah melanjutkan seruannya dengan mengingatkan Israel bahwa Ia adalah satu-satunya Tuhan. Berhala-berhala yang ada adalah sosok palsu yang dibuat dari benda mati yang sama sekali tidak memancarkan kekudusan. Berhala itu tidak ubahnya barang-barang yang dibuat oleh tukang besi dan tukang kayu (ay. 12). Sindiran terhadap berhala ini sekaligus mengingatkan Israel bahwa Bapa leluhur mereka pernah jatuh terhadap ketidaksetiaan kepada Allah yang ganjarannya telah mereka terima.
Kini Israel diundang untuk bangkit dari keterpurukannya karena Allah adalah Tuhan yang senantiasa memelihara Israel. Ia akan memanggil umat-Nya untuk kembali pulang. Mereka yang terpencar-pencar akan disatukan kembali. Itulah janji pemulihan Allah. Atas dasar itulah Allah mengundang Israel untuk tetap hidup berpengharapan dan fokus terhadap apa yang menjadi ketetapan dan kehendak-Nya.
Semoga perenungan kita kali ini dapat mengingatkan kembali atas kasih setia Allah kepada umat-Nya. Hidup dalam ketetapan Tuhan dan berpegang pada janji-janji-Nya dalam menjalani kehidupan. Seringkali di zaman modern yang begitu cepat ini, kita lupa untuk hidup berpadanan dan fokus terhadap firman-Nya. Teralihkan “berhala-berhala” zaman modern yang memaksa kita tunduk dan terhanyut. Kiranya kita diberikan kekuatan untuk senantiasa mengingat dan bersandar pada anugerah-Nya. Itulah yang menjadi kekuatan untuk mengarungi dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini.
























