Bagaimana kita menggambarkan relasi dengan Allah? Di dalam Alkitab ada berbagai metafora yang menggambarkan relasi antara Allah dengan umat-Nya. Pada bagian bacaan kita kali ini, Allah digambarkan sebagai seorang pembentuk (penjunan di TB1) dan manusia adalah tanah liatnya. Lewat metafora ini Allah hendak menegaskan kedaulatan penuh-Nya atas manusia ciptaan-Nya. Itu berarti peristiwa apapun yang mewujud dalam kehidupan kita, merupakan rancangan serta kekuasaan-Nya semata.
Bukankah itu yang terjadi pada bangsa Yehuda? Siapa yang menyangka bahwa pada akhirnya Allah memakai Kores, seorang raja dari negeri asing untuk menjadi jalan pembebasan bagi bangsa yang tengah berada di pembuangan itu. Bahkan bukan itu saja, Allah akan membuat bangsa-bangsa besar, seperti Mesir, Etiopia, dan Syeba untuk tunduk kepada-Nya dan juga pada Israel. Maka sudah menjadi pilihan yang logis dan tepat apabila umat manusia mengandalkan Allah semata dan tidak berpaling kepada para berhala-berhala yang tidak memiliki kuasa apapun.
Kuasa Allah begitu besar tetapi seringkali kita tidak dapat merabanya. Hal itu dikarenakan cara kerja-Nya sendiri merupakan sebuah misteri. “Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri,” demikian pernyataan yang tertulis dengan jelas di ayat 15. Bukankah demikianlah kita dalam segala keterbatasan, seringkali melihat Allah seolah-olah Ia diam? Padahal yang terjadi adalah Allah yang bekerja dalam diam dan mengerjakan yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Maka panggilan kita sebagai orang percaya adalah untuk tunduk, berserah, dan mengandalkan-Nya saja dalam seluruh jalan kehidupan ini.
























