Kita dapat membeli makanan, tetapi tidak selalu selera untuk menikmatinya. Kita dapat membeli rumah, tetapi tidak kehangatan sebuah keluarga. Kita dapat membeli obat, tetapi tidak selalu memperoleh kesembuhan. Semakin dewasa, kita menyadari bahwa justru hal-hal yang paling bernilai dalam hidup seringkali tidak dapat dibeli. Ada kerinduan terdalam dalam diri manusia yang tidak pernah dipuaskan oleh uang, keberhasilan, ataupun kepemilikan.
Yesaya 55 dibuka dengan sebuah undangan yang terdengar paradoksal, “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah!” (ay. 1). Di dunia kuno, pasar adalah tempat orang datang membawa uang untuk memperoleh apa yang dibutuhkan. Namun melalui gambaran itu, Tuhan justru mengundang mereka yang tidak memiliki apa-apa. Air, gandum, anggur, dan susu (yang melambangkan kehidupan, sukacita, dan kelimpahan) diberikan tanpa pembayaran. Sejak awal, Yesaya hendak menunjukkan bahwa relasi dengan Allah tidak pernah dimulai sebagai transaksi, melainkan sebagai anugerah. Karena itu, pertanyaan berikutnya menjadi sangat menggugah, “Mengapa kamu membelanjakan uang untuk yang bukan makanan, dan upah jerih payahmu untuk yang tidak mengenyangkan?” (ay. 2). Pertanyaan ini tidak terutama berbicara tentang uang, melainkan tentang arah hati manusia. Betapa mudah kita menghabiskan hidup untuk mengejar hal-hal yang menjanjikan kepuasan, tetapi tidak pernah benar-benar memenuhi jiwa.
Di tengah undangan itu, Tuhan memanggil umat-Nya untuk datang, mendengar, dan kembali kepada-Nya. Lalu Yesaya menambahkan alasan yang mengejutkan, “Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu...” (ay. 8). Ayat ini sering dipahami sebagai penegasan bahwa jalan Tuhan penuh misteri. Namun dalam konteksnya, Yesaya sedang berbicara tentang keluasan belas kasih Allah. Manusia mudah membatasi pengampunan, tetapi Allah berlimpah dalam mengampuni. Kasih-Nya melampaui cara berpikir manusia, sebagaimana langit lebih tinggi daripada bumi. Seperti hujan yang menghidupkan bumi, demikian pula firman-Nya selalu mengerjakan apa yang dikehendaki-Nya: memulihkan, memperbarui, dan menghadirkan kehidupan.
Sahabat Alkitab, kita sering mengejar banyak hal dengan harapan hidup menjadi lebih utuh. Namun Yesaya mengingatkan bahwa kepenuhan hidup bukanlah sesuatu yang dapat dibeli atau diusahakan sebagai sebuah prestasi. Ia adalah anugerah yang diterima oleh mereka yang bersedia datang kepada Tuhan. Sebab pada akhirnya, yang paling mengenyangkan jiwa bukanlah apa yang berhasil kita miliki, melainkan kasih Allah yang selalu lebih besar daripada segala kekurangan kita. Mungkin persoalan terbesar manusia bukan karena ia terlalu sedikit memiliki, melainkan karena ia terlalu sering mencari kepenuhan di tempat yang keliru. Ketika hati kembali kepada Tuhan, kita menemukan bahwa apa yang selama ini kita cari ternyata telah lebih dahulu disediakan oleh kasih karunia-Nya.

























