Ketika sebagian umat Israel akhirnya kembali dari pembuangan Babel, mereka membayangkan kehidupan baru akan segera dimulai. Kota Yerusalem akan kembali berjaya, ibadah dipulihkan, dan janji-janji Tuhan segera digenapi. Namun kenyataan tidak seindah harapan. Kota masih porak-poranda, kehidupan ekonomi belum pulih, dan bangsa-bangsa besar tetap berkuasa. Di tengah penantian yang panjang itu, muncul godaan untuk mencari rasa aman di tempat lain.
Dalam situasi itulah Yesaya 57 berbicara. Sekilas nampak bahwa Yesaya mengecam penyembahan berhala. Namun persoalannya ternyata lebih dalam daripada sekadar patung atau kurban sajian. Di tengah ketidakpastian, umat mulai mencari perlindungan kepada kuasa-kuasa lain. Mereka mendatangi tempat-tempat pemujaan, membawa persembahan, bahkan membangun aliansi dengan bangsa-bangsa lain demi memperoleh keamanan dan masa depan yang lebih pasti. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan Tuhan, tetapi hati mereka perlahan mulai bersandar pada sesuatu yang lain.
Salah satu kalimat yang paling mengusik terdapat pada ayat 10, “Karena jauhnya perjalananmu engkau menjadi letih lesu, tetapi engkau tidak berkata, “Sudahlah, tak ada gunanya!”. Gambaran ini menunjukkan betapa gigihnya manusia mengejar apa yang diyakininya dapat memberi rasa aman, sekalipun akhirnya hanya mendatangkan kelelahan. Karena itu, akar persoalannya bukanlah penyembahan berhala semata, melainkan kecenderungan hati untuk mempercayakan harapan kepada sesuatu selain Tuhan ketika pertolongan-Nya terasa belum kunjung datang. Itulah sebabnya Tuhan memperlihatkan kontras yang tegas: semua sandaran yang dibangun manusia akan diterbangkan angin, sedangkan “orang yang berlindung kepada-Ku akan mewarisi negeri” (ay. 13). Di tengah segala sesuatu yang mudah berubah, hanya Tuhan yang tetap menjadi tempat perlindungan yang teguh.
Sahabat Alkitab, ke mana hati kita bersandar ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan? Ketika penantian terasa panjang? Jangan biarkan ketakutan mengarahkan hati kepada sandaran-sandaran yang rapuh. Belajarlah tetap berharap kepada Tuhan. Sebab iman berarti keberanian untuk tetap bersandar kepada Dia yang tidak pernah berubah. Di tangan-Nya, kita menemukan bukan hanya rasa aman, tetapi juga pengharapan yang sanggup bertahan melewati setiap musim kehidupan. Sebab yang menopang kehidupan bukanlah kuatnya pegangan kita kepada Tuhan, melainkan kesetiaan Tuhan yang tidak pernah melepaskan kita.

























