Manusia seringkali menjadi begitu angkuh. Kita merasa bisa melakukan dan menguasai segala sesuatu. Hingga pada akhirnya keangkuhan itu menjerumuskan kita pada dosa yang lebih dalam lagi. Jika kita mau berserah dan rendah hati di hadapan-Nya maka kita akan melihat anugerah Tuhan yang begitu nyata di kehidupan kita. Pertobatan meretas jalan pada pemulihan yang sejati asalkan kita betul-betul bersedia dibentuk oleh-Nya.
Itulah yang menjadi pesan utama dalam bacaan kita kali ini. Israel digambarkan tengah menyerukan seruan pertobatannya. Mereka menyadari kesalahan yang selama ini telah diperbuat kepada Allah. Bahkan dari perbuatan dosa tersebut datanglah didikan dan penghukuman dari Allah. Yang mereka anggap saleh, ternyata hanya ritual dan tradisi yang tidak kudus (ay.6). Dosa pada akhirnya merusak relasi yang terjahit intim dengan Allah.
Maka dari itu perlu ada langkah radikal untuk memperbaiki semuanya. Pertama-tama, umat melihat cinta kasih Allah yang lebih dahulu hadir dan merengkuh mereka. Memang Allah sempat menyembunyikan wajah-Nya, tetapi itu semua akibat dari tindakan mereka sendiri. Dengan penuh kesadaran, Israel berbalik dan menyerahkan hidupnya kepada Allah. Sesungguhnya mereka hanyalah tanah liat yang berhak dibentuk apapun oleh Allah (ay. 8). Israel hanyalah buatan tangan Allah.
Kerendahan hati itu menghadirkan kesadaran akan kebergantungan penuh kepada Allah. Kita mempunyai ruang untuk berefleksi atas apa yang selama ini telah terjadi. Sehingga pada akhirnya relasi kita kembali dipulihkan dengan Allah. Berdasarkan anugerah-Nya yang kita sambut dalam penyerahan diri kepada Tuhan. Semoga kita dimampukan untuk menempatkan diri sebagai tanah liat yang siap dibentuk menjadi apapun juga oleh Sang Pemilik Tanah Liat itu.
























