Mengatakan kebenaran memang tidaklah mudah. Kita bicara tidak hanya tentang mau atau tidak mau, bisa atau tidak bisa, melainkan tentang keberanian bahkan jika kebenaran yang kita sampaikan membuat orang lain mempersekusi kita. Namun itulah harga dari sebuah kebenaran. Jika semua orang ingin berada pada sisi nyaman kehidupan maka tidak ada lagi kebenaran yang diperjuangkan dalam kehidupan.
Yeremia memulai panggilan kenabiannya dengan rasa ragu karena ia tidak mampu untuk berbicara. Apa yang dimaksudkannya adalah tentang kemampuan mengkonstruksikan ide, menyampaikan kebenaran, dan membuat orang yakin serta mengikuti apa yang dikatakannya. Pada saat itu Tuhan berjanji akan menyertainya bahkan menguduskan Yeremia untuk dapat melakukan tugas perutusan dari-Nya. Kini Yeremia 18: 18-23 menunjukkan tantangan yang harus dihadapi Yeremia. Segerombolan orang yang tidak menyukainya mulai bermufakat untuk menghabisi Yeremia. Mengapa itu terjadi? Karena kebenaran yang disampaikan Yeremia sesungguhnya telah menggugat banyak orang dan membuat tidak nyaman para pemegang kepentingan.
Di hadapan permufakatan jahat tersebut, Yeremia tahu bahwa hanya Tuhan yang menjadi sumber pertolongannya. Ia berdoa agar Tuhan melindungi-Nya serta berkenan menegakkan keadilan atas apa yang terjadi. Bukankah itulah hakikat dari keberimanan kita, bahwa pada akhirnya kita dipaksa untuk menjadi rendah hati terhadap hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan dalam hidup?
Jika kehidupan kita saat ini penuh dengan banyak tantangan atau bahkan tentangan dari mereka yang tidak menyukai kita janganlah gentar. Tetaplah mengerjakan apa yang benar karena itulah yang Allah kehendaki. Selama kita berjuang untuk menjadi orang yang benar di hadapan-Nya, maka keadilan Allah senantiasa dinyatakan atas kita. Berjuanglah untuk hidup dalam kasih dan kebenaran karena itulah yang dapat kita lakukan sebagai bentuk syukur atas kasih serta pengampunan-Nya.
























