Sebuah tindakan simbolis kadangkala meninggalkan pesan dan kesan yang begitu mendalam. Seperti yang juga dilakukan Nabi Yeremia pada ayat yang kita baca saat ini. Allah menyuruh Yeremia untuk pergi ke Lembah Ben-Hinom bersama dengan beberapa tetua bangsa dan tua-tua para imam. Saat tiba di sana, Allah menyuruh Yeremia memecahkan buli-buli tembikar yang telah disiapkan sebelumnya, di hadapan para saksi. Maknanya tegas: sebagaimana tembikar yang sudah dibakar dan pecah tidak dapat diperbaiki lagi, demikianlah Allah akan menyatakan penghukuman-Nya kepada Yerusalem.
Apakah telah sebegitu murka-Nya Allah sehingga tidak ada lagi jalan keluar bagi Yehuda? Sesungguhnya Allah senantiasa memanggil mereka ke dalam pertobatan, hanya saja ajakan itu selalu ditolak. Mereka begitu mengeraskan hati dalam dosa. Terlibat dalam penyembahan berhala dan segala bentuk pemujaannya adalah sesuatu yang terus dipertahankan oleh bangsa Yehuda. Maka Allah akan mendatangkan penghukuman atas mereka. Demikianlah sabda Allah kepada Yeremia, “Rumah-rumah Yerusalem dan rumah-rumah para raja Yehuda akan menjadi tempat najis seperti Tofet, yakni semua rumah yang di atas sotohnya orang membakar kurban untuk segala tentara langit dan mempersembahkan kurban curahan kepada ilah-ilah lain.”
Pesan Tuhan dalam perikop yang kita baca kali ini sesungguhnya menjadi peringatan yang begitu mendalam bagi kita. Berapa banyak peringatan-Nya kita langgar dan tetap saja memilih untuk melakukan apa yang mendukakan- Nya? Berapa banyak undangan pertobatan yang kita acuhkan dan mengelak dengan segala pembenaran atas segala dosa kita? Marilah jangan mengeraskan hati. Sebelum tembikar itu dihancurkan dan tidak dapat diperbaiki, bukankah ia pernah menjadi tanah liat yang seharusnya tunduk pada pembentukan Sang Tukang Periuk. Seharusnya kita pun senantiasa menjadi tanah liat yang tunduk pada pembentukan-Nya. Allah memang Maha Pengasih, tetapi Ia Juga Tuhan yang Maha Adil. Ia menyatakan keadilan-Nya bagi mereka yang berkeras hati kepada-Nya.
























