Pernahkah kita meminta pendapat seseorang karena sedang bingung menentukan pilihan, padahal sebenarnya kita sudah punya jawaban yang kita inginkan? Kita memang ingin mendengar pendapatnya, tetapi dalam hati berharap ia mengatakan sesuatu yang membuat kita semakin yakin dengan pilihan tersebut. Ketika jawabannya ternyata berbeda, kita bisa merasa kecewa atau mulai mencari alasan untuk membenarkan pilihan kita. Mungkin bukan karena sejak awal kita tidak mau mendengar, melainkan karena kita belum siap menerima jawaban yang berbeda dari harapan.
Situasi seperti itu dialami kelompok orang Yehuda dalam Yeremia 42:1-22. Setelah Gedalya dibunuh, mereka berada dalam keadaan yang tidak aman. Jika tetap tinggal di Yehuda, mereka takut orang-orang Babel akan menganggap mereka terlibat dalam pembunuhan itu. Sebaliknya, Mesir tampak menawarkan perlindungan yang lebih menjanjikan. Dalam keadaan serba tidak pasti, mereka datang kepada Yeremia dan meminta agar Tuhan menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh. Mereka bahkan berjanji akan menaati firman Tuhan, apapun jawabannya.
Yeremia tidak langsung memberikan jawaban. Ia menunggu sepuluh hari sebelum menyampaikan firman Tuhan. Penantian itu menunjukkan bahwa ia tidak ingin berbicara atas nama Tuhan berdasarkan perkiraannya sendiri. Ketika akhirnya Tuhan menyatakan kehendak-Nya, jawabannya justru tidak sesuai dengan pilihan yang mungkin terasa lebih aman bagi mereka: jangan pergi ke Mesir, tetapi tetaplah tinggal di Yehuda. Tuhan bahkan memberikan janji, “Aku akan membangun dan tidak akan meruntuhkan kamu, akan membuat kamu tumbuh dan tidak akan mencabut kamu.” Di tengah keadaan yang belum pulih, Tuhan menawarkan bukan sekadar keamanan, melainkan penyertaan dan masa depan.
Jawaban itu tentu tidak mudah diterima. Secara manusiawi, pergi ke Mesir dapat terlihat sebagai pilihan yang masuk akal. Namun, disinilah ketulusan kita ketika meminta petunjuk diuji. Kita dapat sungguh-sungguh datang kepada Tuhan dengan pertanyaan, tetapi pada saat yang sama membawa ketakutan, keinginan, dan harapan kita sendiri. Tanpa sepenuhnya menyadarinya, kita mungkin bukan hanya mencari petunjuk, tetapi juga berharap Tuhan menguatkan pilihan yang sudah kita buat.
Sahabat Alkitab, pernahkah kita bersikap serupa dengan umat Tuhan pada masa itu? Datang kepada Tuhan dengan doa yang sungguh-sungguh, tetapi ternyata berharap agar jawaban-Nya sejalan dengan rencana kita. Padahal, meminta petunjuk Tuhan berarti membuka diri terhadap kemungkinan bahwa Ia akan menunjukkan jalan yang berbeda dari keinginan kita. Ketika itu terjadi, mungkin kita tidak selalu langsung memahami semuanya. Maka, kita dapat mulai dengan mengakui apa yang kita takutkan dan belajar percaya bahwa Tuhan tetap menyertai kita. Sebab, iman bukan hanya tentang keberanian untuk bertanya kepada Tuhan, tetapi juga kerendahan hati untuk mendengar ketika jawaban-Nya berbeda dari yang kita harapkan.























