Ada sesuatu yang menarik dalam jawaban orang-orang Yehuda ketika Yeremia menegur mereka di Mesir. Mereka justru mengingat pengalaman mereka sendiri: ketika mereka mempersembahkan korban kepada “Ratu Surga”, mereka merasa memiliki makanan yang cukup dan hidup dalam keadaan baik. Sebaliknya, ketika mereka berhenti melakukannya, malapetaka datang. Bagi mereka, pengalaman itu seolah menjadi bukti bahwa apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah salah.
Namun, justru di situlah letak persoalannya. Pengalaman dan kebiasaan dapat membentuk cara seseorang menilai apa yang benar dan apa yang salah. Sesuatu yang terus dilakukan perlahan terasa wajar, sementara sesuatu yang dianggap membawa hasil mudah diterima sebagai sesuatu yang benar. Padahal, Yeremia mengajak mereka membaca kembali pengalaman mereka dengan cara yang berbeda. Kehancuran Yehuda bukanlah akibat berhenti mempersembahkan kurban kepada “Ratu Surga”, melainkan berkaitan dengan ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Dengan kata lain, persoalannya bukan pada pengalaman yang mereka miliki, tetapi pada cara pengalaman itu ditafsirkan. Karena itu, pengalaman tidak selalu cukup menjadi dasar untuk menentukan kebenaran. Ia perlu diuji kembali dalam terang firman Tuhan.
Kita pun dapat mengalami hal serupa. Ada kebiasaan yang terus dipertahankan karena “semua orang juga melakukannya”, “kalau tidak begitu urusan tidak selesai”, atau “sudah dari dulu memang begini”. Lama-kelamaan, kita mungkin berhenti mempertanyakan sesuatu bukan karena sudah yakin bahwa itu benar, melainkan karena terlalu terbiasa melihatnya sebagai hal yang wajar. Bahkan, ketika kebiasaan itu terasa membawa hasil, kita semakin sulit menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali. Sebab, sesuatu yang terus hadir dalam hidup kita dapat perlahan terasa seperti kebenaran, padahal mungkin ia hanya kebiasaan yang belum pernah kita uji kembali.
























