Konon katanya tidak ada satupun bentuk kekuasaan yang abadi. Satu kekaisaran demi kekaisaran lain mencengkram separuh dunia. Namun pada akhirnya kekuasaan dan kedigdayaannya runtuh. Pada akhirnya kita diajarkan bahwa segala bentuk kekuasaan di dunia tidak ada yang abadi. Hanya kuasa Tuhanlah yang secara abadi terus terwujud dan ditegakkan di sepanjang zaman.
Perikop kali ini masih menceritakan nubuat tentang kekaisaran Babel yang dinubuatkan akan jatuh juga. Sebelumnya bangsa Yehuda merasa bahwa Babel yang telah mengalahkan mereka seperti tidak terkalahkan. Di tengah jeritan keputusasaan itulah, firman Tuhan dalam Yeremia 50:34 bergema dengan luar biasa: “Tetapi Penebus mereka adalah kuat, TUHAN semesta alam namanya; Ia akan memperjuangkan perkara mereka dengan kuat…”
Ketika dunia dan sistemnya dikendalikan oleh kekuatan, harta, atau kekayaan layaknya Babel, Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Penebus (Go'el). Dalam tradisi Israel, seorang Penebus adalah anggota keluarga terdekat yang maju untuk menebus saudaranya dari perbudakan atau utang yang mustahil dibayar sendiri. Tuhan menyatakan bahwa Ia bukan sekadar Penguasa yang jauh di surga, melainkan “Kerabat Terdekat” yang rela turun tangan dan berperkara bagi kita. Ia adalah Sang Pembela yang tidak akan diam melihat umat-Nya diinjak-injak. Dalam karya-Nya itulah, Babel yang seolah-olah tidak terkalahkan akan menemui ujungnya. Tuhan sanggup meniadakan kuasa-kuasa yang merasa dirinya tidak terkalahkan dan seolah-olah mengungguli Allah.
Bukankah kita seringkali menjadi seperti “Babel” yang merasa tidak terkalahkan dan memiliki dunia. Kepastian hidup dibangun berdasarkan apa yang kita genggam dan capai, tetapi kita lupa bahwa itu semua adalah milik Allah. Padahal penentu segala alur kehidupan adalah Allah semata. Marilah bersandar kepada pertolongan serta kekuatan Allah dengan sepenuh hati kita.

























