Salah satu persoalan dalam kehidupan sosial bukan hanya ketika penderitaan terjadi, melainkan ketika penderitaan itu perlahan dianggap hal biasa. Ketimpangan, ketidakadilan, dan keluhan masyarakat terus hadir dalam ruang publik. Namun, apakah suara mereka sungguh didengar, atau sekadar menjadi kebisingan di tengah kepentingan yang dianggap lebih besar? Ketika penderitaan kehilangan daya untuk mengusik hati, kita sedang menghadapi krisis yang bukan hanya sosial, tetapi juga moral.
Ratapan 2: 13-22 lahir dari pengalaman kehancuran Yerusalem oleh Babel. Sang penyair menggambarkan luka kota itu seperti laut yang luas, seolah tak seorang pun mampu menyembuhkannya (ay. 13). Penderitaan tersebut diperparah oleh kegagalan para nabi yang menyampaikan penglihatan palsu dan tidak menyingkapkan kesalahan umat (ay. 14). Mereka menawarkan perkataan yang menyesatkan, alih-alih kebenaran yang dapat menuntun kepada pemulihan.
Sementara itu, Yerusalem menjadi tontonan dan bahan ejekan bangsa-bangsa lain. Penderitaan bukan hanya dialami, tetapi juga dipertontonkan dan direndahkan. Di tengah kehancuran itu, umat diajak mencurahkan hati kepada Tuhan dan berseru bagi kehidupan anak-anak mereka. Doa mereka bahkan memuat pertanyaan yang mengguncang tentang penderitaan yang terjadi.
Ratapan umat memperlihatkan bahwa iman juga dapat bersuara melalui tangisan, protes, dan pertanyaan. Bukankah ratapan ini juga mengingatkan kita agar tidak menggunakan bahasa rohani untuk menutupi persoalan sosial atau membungkam sebuah kritik? Doa bagi bangsa harus berjalan bersama keberanian mendengarkan jeritan masyarakat dan memperjuangkan martabat manusia. Barangkali krisis terbesar bukanlah ketika manusia kehilangan suara, melainkan ketika sesamanya kehilangan kemauan untuk mendengar. Sebab, ketidakadilan terus melenggang bukan hanya karena ada pihak yang terus melakukan, tetapi juga karena ada yang memilih untuk tidak peduli.
Sahabat Alkitab, Iman yang hidup bukanlah iman yang kebal terhadap penderitaan, melainkan iman yang membiarkan jeritan sesama menggugah hati dan menggerakkan tindakan. Sebab, selama masih ada suara yang diabaikan, panggilan kita untuk mendengar belum selesai.

























