Pada saat kepulangan Daud beserta orang-orangnya ke Ziklag, ternyata kota itu telah dijarah dan dibakar habis. Seluruh warga kota itu, yang adalah keluarga dari Daud dan orang-orangnya, pun diangkut sebagai tawanan perang. Hal ini pun menjadi kenyataan hidup yang telah begitu menghancurkan pribadi mereka, bahkan keimanan mereka kepada TUHAN. Bagi seorang Daud, inilah salah satu masa sulit yang sangat menantang dalam sejarah kehidupannya. Bahkan, pada ayat 6 digambarkan bahwa seluruh orang yang mengikutinya sedang berbalik untuk mempersalahkan Daud. Hal ini menjadi wujud keterlukaan, kekecewaan, dan kemarahan atas Daud, sang pemimpin yang memang bertanggung-jawab atas mereka semua.
Meski dihimpit oleh kesedihan dan kekecewaan para orang banyak, Daud tetap berhasil menampilkan sebuah pedoman iman, yakni dengan meneguhkan percayanya kepada TUHAN. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor kuatnya kepemimpinan yang dimiliki Daud. Di tengah situasi dan kondisi hidup yang berat, Daud tidak mengambil tindakan dengan gegabah. Ia selalu berusaha melakukan pertimbanganya yang matang dan berlandaskan kehendak TUHAN. Beberapa kali, sejak masih dalam masa pelarian dari kejaran Saul, Daud selalu menyertakan TUHAN pada setiap keputusan yang harus ia lakukan. Ia menyadari bahwa TUHAN-lah yang berkuasa atas jalannya kehidupan sehingga mengambil keputusan dalam keegoisan merupakan sebuah kekeliruan terbesar. Daud memahami bahwa ia tidak dapat menggeser peran dan kuasa TUHAN.
Pada saat ini, Daud pun tidak membiarkan dirinya hanyut oleh kesedihan maupun tergesa-gesa dalam mengambil keputusan hanya karena tuntutan dari para orang banyak. Langkah pertama yang Daud lakukan adalah meneguhkan kepercayaannya kepada TUHAN. Daud menyadari betul bahwa kenyataan hidup saat itu telah membuat imannya kepada TUHAN menjadi rapuh. Hal itu tentu menjadi sesuatu yang wajar sebagai seorang manusia. Namun, ia tidak membiarkan kerapuhan itu menjadi akhir dari kehidupan imannya. Daud segera melakukan tindakan untuk meneguhkan kembali kerapuhan iman itu agar tidak hancur berkeping-keping.
Sahabat Alkitab, meneguhkan kepercayaan kepada TUHAN di tengah kenyataan hidup yang pahit merupakan sesuatu yang sangat menantang. Terdapat banyak tantangan yang membuatnya semakin sulit untuk dilakukan. Namun, meneguhkan kepercayaan adalah penting bagi setiap orang percaya yang ingin melanjutkan hidup sesuai dengan kebenaran firman TUHAN. Hanya dengan iman yang teguhlah kita dapat mengarahkan hati kepada TUHAN dan mengakui peran-Nya dalam setiap perjalanan kehidupan.