Tamak atau serakah merupakan salah satu kecenderungan negatif yang dapat muncul pada diri setiap manusia. Pada dasarnya ketamakan merupakan hasil dari ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan hasrat memiliki yang terlalu besar dan berpusat hanya untuk kenyamanan diri sendiri. Artinya, melalui perilaku tamak seorang manusia tidak sekadar mengumpulkan banyak melainkan juga berupaya selalu memenuhi orientasi egonya sendiri. Tentu saja perilaku ini dapat semakin berkembang hingga menimbulkan banyak dampak negatif dan destruktif bagi pihak lain yang ada di sekitarnya, entah sesama manusia maupun makhluk ciptaan lainnya.
Ketamakan tidak hanya muncul dalam hidup relasi keseharian, tetapi juga dalam relasi beriman. Seorang umat TUHAN yang tidak dapat mengendalikan hasrat dan egonya akan menjadikan beriman kepada TUHAN sebagai media untuk menghasilkan banyak kenyamanan demi egonya sendiri. Hal ini tentu bukanlah praktik hidup beriman yang sesuai dengan firman TUHAN. Salah satu acuan untuk membentuk hidup beriman yang anti-ketamakan dapat kita resapi melalui pesan kenabian dari Yehezkiel 34 ini.
TUHAN, melalui Yehezkiel, sedang memberikan janji pemulihan, ketenteraman dan kepenuhan hidup di dalam dan oleh TUHAN bagi setiap umat yang berserah penuh kepada-Nya. Namun, di balik setiap janji tersebut terdapat sebuah identitas diri sekaligus misi yang tidak-dapat tidak dilakukan oleh setiap umat TUHAN, yakni menjadi berkat! Hal ini merupakan unsur penting dalam keseluruhan rangkaian janji pemulihan TUHAN, secara khusus mengingat pengalaman umat Israel yang sudah cukup lama hidup dalam kesulitan dan terpisah dari TUHAN. Pemulihan yang akan mereka dapatkan dapat berubah menjadi pengalaman yang menghancurkan diri maupun pihak lain di sekitar mereka jika mereka tidak mampu memandang berkat TUHAN tersebut dengan perspektif iman yang sehat dan hati yang tulus. Mereka sangat mungkin menjadikan TUHAN sebagai agen untuk memenuhi segala ketamakan mereka.
Sahabat Alkitab, kita perlu mawas diri agar terhindar dari ketamakan beriman yang justru menjadikan perilaku hidup tidak sehat, entah untuk diri sendiri maupun orang lain. Segala berkat dan pemulihan dari TUHAN bukan sekadar pengalaman penuh nikmat untuk kita jalani, melainkan juga sebagai pembentukan identitas dan misi yang menghadirkan berkat dari TUHAN bagi pihak lain di sekitar kita.