Dewasa ini orang-orang berpikir bahwa nilai diri seseorang terletak pada pencapaian-pencapaian yang berada di luar dirinya. Sebagian orang mungkin merasa bahwa nilai itu didapat dari kekuasaan, jabatan, bahkan harta benda. Padahal hal tersebut merupakan sesuatu yang semu dan menghadirkan ilusi bahwa kita harus selalu mencari lebih. Sehingga orang modern cenderung untuk jatuh kepada keserakahan. Pada hari ini kita belajar bahwa nilai diri kita terletak pada Allah yang mengasihi serta melindungi ciptaan-Nya.
Melalui Yehezkiel, Tuhan menyampaikan tentang pemulihan umat Israel dari pembuangan. Ia sendiri akan mencurahkan Roh-Nya kepada umat, sehingga mereka berlimpah berkat setelah melalui masa sulit. Kembalinya umat ke tanah terjanji juga merupakan bukti dari kekudusan nama Tuhan. Meskipun sebelumnya Tuhan sendiri yang membuang umat ke pembuangan, tetapi Tuhan juga yang pada akhirnya mengumpulkan mereka kembali ke tanah Israel. Tidak seorangpun dari umat yang akan terlewatkan dari kasih pengampunan-Nya. Tuhan juga berjanji tidak akan lagi menyembunyikan wajahnya kepada Israel.
Bangsa yang ‘kalah’ itu dan kehilangan harga diri di hadapan bangsa-bangsa lain, menerima pemulihan-Nya melalui Allah Sang Penguasa Semesta. Nilai diri bangsa Israel dipulihkan seturut dengan kemuliaan Allah yang nampak melalui kepulangan bangsa tersebut. Dari sini kita melihat bahwa bukan ambisi Israel lah yang memulihkan mereka, melainkan hanya karena kemurahan hati-Nya saja.