Relasi antara Allah dengan manusia dalam kekristenan dipahami sebagai relasi yang hidup dalam interaksi serta komunikasi dengan Allah. Sayangnya dalam zaman modern ini komunikasi dengan-Nya terasa sebagai formalitas belaka. Ditelan oleh riuh rendah arus zaman serta himpitan pergumulan sehari-hari, kita seolah-olah lupa untuk menyapa-Nya dalam kesungguhan. Doa dan ibadah yang menjadi sarana untuk menyapa-Nya, lambat laun menjadi begitu kering. Maka komunikasi yang hidup dengan-Nya pada akhirnya menjadi sebuah kebutuhan.
Bacaan kita kali ini merupakan Mazmur yang digolongkan sebagai mazmur pujian. Pemazmur menyerukan dan mengajak seluruh umat untuk memanjatkan puji-pujian kepada Allah. Bahkan dalam Mazmur 134:1-3,
Kebaikan Allah menjadi pemantik dari segala puja puji umat-Nya (3). Tindakan Allah dapat dilacak hingga ke awal mulanya saat Ia memilih Yakub dan Israel menjadi milik kesayangan-Nya. Dengan demikian Allah meneguhkan diri-Nya sebagai satu-satunya pencipta yang melampaui ilah-ilah yang dikenal manusia. Perbuatan ajaib-Nya melampaui seluruh sisi bumi bahkan yang tidak terjangkau manusia sekalipun. Demikianlah pemazmur menjelaskan karya Allah yang terjadi di langit dan di bumi, di laut serta segenap samudera raya.
Sahabat Alkitab, marilah kita memuji Allah senantiasa melalui kata dan tindakan yang kita wujudkan dalam hidup sehari-hari. Menyapa Allah dalam kesungguhan dan seluruh keberadaan kita melahirkan komunikasi yang hidup dengan-Nya. Seringkali kita lupa bahwa Allah adalah pribadi yang hidup bukan sekedar konsep yang dirangkai oleh manusia. Ia selalu berada bersama umat-Nya dalam segala arus kehidupan yang dilalui oleh umat manusia.

























