Dalam hidup yang telah kita lalui hingga sejauh ini. Pernahkah berhenti sejenak untuk melihat karya baik Allah yang terjadi di sepanjang kehidupan kita. Tidak pernah sekalipun detik dan waktu terlewat tanpa penyertaan-Nya. Dengan demikian sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk merasa sendirian karena Ia selalu menyertai kita. Puji-pujian kepada Allah pada akhirnya menjadi keniscayaan bagi orang yang mengingat selalu kasih setia-Nya.
Pada bacaan kita kali ini, pemazmur juga mengajak seluruh umat untuk mengingat karya Allah yang terbentang di sepanjang sejarah. Ia yang membebaskan bangsa Israel dari cengkraman perbudakan Mesir, bahkan hingga mendatangkan tulah atas bangsa itu. Bangsa-bangsa dan kerajaan yang menentang Israel dibuat-Nya tidak berdaya. Sehingga Allah bisa memberikan tanah pusaka yang telah dijanjikan-Nya kepada Israel. Itulah bentuk dari kesetiaan Tuhan atas janji-Nya kepada Israel.
Pemazmur kemudian membandingkan kuasa Allah yang terjalin nyata dalam sejarah tersebut dengan ilah bangsa-bangsa lain. Mereka hanyalah benda-benda mati yang dibuat dari perak dan emas, buatan tangan manusia (ay. 15). Sangat jauh berbeda dengan Allah yang hidup, yang disembah oleh bangsa Israel. Ingatan akan karya kasih Allah ini kiranya terus terjalin dalam ingatan kolektif umat Tuhan di sepanjang masa. Pada akhirnya hanya Allah sajalah yang ditinggikan dan dipuji oleh seluruh bangsa.
Sahabat Alkitab, memuji Allah berarti mengingat karya kasih dan kebaikan-Nya yang terbentang dalam hidup kita. Dengan demikian kita pun beroleh kekuatan untuk mewujudkan hidup yang sesuai dan seturut dengan kehendak-Nya. Memanjatkan pujian kepada Allah bukan sekedar ucapan belaka, melainkan hati dan hidup yang senantiasa terarah pada Tuhan. Pujilah Dia selalu karena hanya dalam Tuhan sajalah ada kasih serta perlindungan abadi. Kitalah saksi atas segala kebaikan yang telah Tuhan kerjakan.

























