Dunia sering mengajak kita menjauh dari pikiran tentang kematian, seolah-olah dengan melupakannya kita bisa hidup lebih tenang. Namun Pengkhotbah justru mengajak kita menoleh ke arah yang sebaliknya: mengingat bahwa hidup ini terbatas, agar kita sungguh-sungguh menjalaninya. Bayangkan seorang muda yang berdansa di bawah terik matahari, bukan karena ia merasa waktu tak akan habis, melainkan karena ia tahu terang itu suatu saat akan meredup. Ia tidak sedang menyia-nyiakan waktu, tetapi merayakan setiap detiknya dengan kesadaran penuh. Di sanalah kita menemukan sebuah paradoks iman: kita baru belajar merayakan hidup dengan utuh ketika berani menatap wajah kefanaan.
Pesan yang disampaikan pengkhotbah pada perikop kali ini bukan bertujuan untuk memadamkan sukacita itu. Ia justru berkata, “Bersukarialah!”, sebuah pengakuan bahwa masa muda adalah karunia yang singkat, seperti hebel, uap atau kesia-siaan, yang sebentar tampak lalu lenyap. Namun sukacita itu tidak berjalan tanpa arah. Kesadaran bahwa hidup berada dalam terang Allah membuat setiap pilihan sangat bernilai. Karena itu, mengingat Sang Pencipta sejak masa muda bukanlah beban yang menahan kebahagiaan, tetapi sumber yang memberi arah dan makna. Sukacita yang lahir darinya tidak melukai, melainkan bertumbuh pelan sebagai ungkapan syukur.
Dengan bahasa yang puitis, Pengkhotbah melukiskan hari-hari ketika tubuh mulai merapuh, gemetar, membungkuk, rabun, hingga kehidupan terlepas seperti rantai perak yang putus. Gambaran ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan bahwa manusia, seindah apa pun, tetap rapuh. Kesadaran ini menolong kita menjalani hidup dengan lebih bijaksana: tidak menyia-nyiakan waktu dan tidak menggantungkan diri pada hal-hal yang sementara.
Sahabat Alkitab, Pengkhotbah tidak menakut-nakuti kita dengan kefanaan, melainkan mengajar kita mencintai hidup dengan jujur. Masa muda adalah anugerah yang patut dirayakan, namun bukan untuk melupakan arah dan maknanya. Karena itu, jalanilah hidup dengan sungguh, bersukacitalah dengan tulus, dan biarlah setiap langkah berakar pada Tuhan. Sehingga ketika waktunya tiba, hidup kita tidak berlalu sia-sia, melainkan menjadi kesaksian tentang kasih-Nya yang kekal.
























