Dunia saat ini tempat kita hidup dikuasai oleh konsumerisme. Segala sesuatu diukur berdasarkan kapital/modal dan cara untuk memperoleh keuntungan darinya. Bahkan termasuk dalam cara kita menentukan apa yang baik bagi diri sendiri dan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Sungguh sulit untuk menghargai diri sendiri atau pasangan di tengah standar dunia.
Teks yang kita baca saat ini menunjukkan keteguhan seseorang untuk menilai dan mengagumi pasangannya sesuai dengan caranya menilai serta menghargainya. Sang mempelai laki-laki ini memuji pasangannya dengan membandingkan kecantikannya seperti Tirza dan Yerusalem. Dua kota penting dalam sejarah Israel. Tirza adalah kota indah yang pernah menjadi ibu kota kerajaan Israel (utara) dan Yerusalem sebagai pusat kemuliaan serta kekudusan. Dengan mengutip kedua kota tersebut, perempuan digambarkan bukan hanya cantik secara fisik, tetapi memiliki keagungan serta kewibawaan.
Puji-pujian kepada pasangan di pasal 6 ini merupakan pengulangan pujian dari pasal 4. Hal tersebut menunjukkan konsistensi rasa dan cinta. Ada rasa segan dan hormat yang bukan hanya berada di hati tetapi dikatakan dengan penuh hormat serta kejujuran. Dari perspektif psikologis situasi ini merupakan Unconditional Positive Regard yakni kemampuan untuk terus mengagumi pasangan meskipun telah melihat kelemahannya di fase-fase sulit sebelumnya. Bagaimana kekaguman tetap bertahan meski relasi telah melewati berbagai fase tekanan hidup.
Dewasa ini banyak pernikahan mengalami krisis karena masing-masing pihak merasa cinta adalah sebuah keniscayaan dalam relasi pernikahan sehingga tidak perlu lagi dipelihara serta dirayakan. Cinta tetap perlu dirayakan dalam cara kita menghayatinya bersama pasangan dan tidak ditentukan oleh nilai-nilai dunia ini. Menghayati cinta kasih bersama pasangan menjadi cara kita juga untuk menghayati kasih Tuhan yang terus teranyam dalam kehidupan.
























