Menjalankan apa yang benar di hadapan Tuhan tidaklah selalu mudah. Seringkali ada orang yang tidak suka melihat kita mengerjakan hal yang benar dan tetap teguh terhadap kebenaran tersebut walau apapun yang terjadi. Pada hari ini kita bersama-sama memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, bukankah sepanjang republik ini berdiri tegangannya selalu sama. Antara orang-orang yang berdiri serta memihak kebenaran, dengan mereka yang mencari mudahnya sendiri serta menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
Inilah yang juga dirasakan oleh Yeremia. Sejak awal proses perutusannya, ia telah mengetahui bahwa jalan yang ditempuhnya tidaklah mudah. Ia menyadari keterbatasannya dalam hal berbicara, selain itu tugas sebagai seorang Nabi tidaklah mudah. Saat ini Yeremia mengungkapkan kembali tantangannya dalam doa yang berisi keluh kesah kepada Allah. Jika biasanya nabi digambarkan begitu tegas dan garang, kini kita dapat melihat serta belajar dari kerapuhan, luka, serta kemanusiaan mereka dalam menjalankan tugas perutusan dari Allah.
Apa yang diungkapkan dalam perikop kita saat ini adalah penyingkapan yang dikerjakan Tuhan sendiri mengenai orang-orang terdekat Yeremia yang ternyata bermaksud jahat terhadap Yeremia. Di samping itu ada orang-orang Anatot yang mengancam Yeremia untuk mencegahnya mengatakan apa yang benar di hadapan Allah. Siapakah orang-orang Anatot ini? Kemungkinan besar mencakup para imam, kerabat, dan komunitas keagamaan yang terganggu dengan nubuatan Yeremia. Di tengah segala kesulitan itu Yeremia sadar bahwa hanya Tuhan pelindung dan hakim yang adil baginya. Tuhan akan mengerjakan pembalasan bagi orang-orang yang menolak mendengarkan dengan sungguh ketetapan-Nya karena pada dasarnya Nabi Yeremia hanyalah Allah untuk mengungkapkan maksud-Nya.
Sahabat Alkitab, marilah kita tetap teguh melakukan serta mengerjakan kebenaran meskipun berat tantangannya. Apalagi di tengah masyarakat yang terlalu lama kehilangan sensitivitas akan kebenaran, karena kebenaran telah lama dimanipulasi oleh mereka yang berkepentingan. Namun di kondisi masyarakat seperti itulah kita ditantang untuk melakukan dan mengerjakan kebenaran dengan lebih sungguh lagi apapun resikonya. Dalam konteks penghayatan ulang tahun kemerdekaan bangsa kita, itulah yang dapat kita persembahkan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia.
























