Pertanyaan yang diajukan oleh Nabi Yeremia pada ayat 1, mungkin merefleksikan kegelisahan kita. Ia berkata, “Mengapakah mujur hidup orang fasik, sentosa semua yang berlaku serong?” Sebuah kegelisahan yang wajar mengingat degradasi moral, spiritualitas, dan kebangsaan yang menggerogoti Yehuda pada saat itu. Berkaca pada kondisi bangsa Indonesia, kita sungguh bisa merasakan kegelisahan Yeremia. Korupsi semakin merata, nepotisme seolah dibenarkan, kolusi menjadi praktek keseharian, dan segelintir orang di republik ini menguasai kekayaan yang sangat besar sehingga dapat mengontrol segala sesuatu. Dalam kegelisahan tersebut patutlah kita bertanya dan berefleksi tentang iman seperti apakah yang hendak kita rumuskan dan hayati bersama?
Dalam perikop yang kita baca sesungguhnya Yeremia tidak pernah meragukan keadilan Allah yang akan menghukum mereka yang fasik dan berlaku serong. Hanya saja ia menuntut agar peristiwa penghakiman itu untuk segera terjadi. Tariklah mereka ke luar seperti kambing domba sembelihan, demikianlah seruan Yeremia sehingga atas pengadilan itu negeri mereka kembali damai. Namun Allah justru menjawab tuntutan Yeremia dengan teguran bahwa Allah mengizinkan itu semua terjadi sebagai sebuah ujian iman bagi Yeremia, bahkan kelak orang-orang fasik itu juga akan mengkhianati Yeremia.
Di sisi lain, Tuhan juga menjamin bahwa penghakiman-Nya pasti akan terjadi dan tidak akan ditunda-Nya. Bangsa asing akan dikirimkan-Nya untuk menginjak-injak dan meluluhlantakkan negeri itu sampai tandus. Pada waktu-Nya juga Allah akan menghukum bangsa-bangsa asing yang menghancurkan Yerusalem karena mereka telah turut berdosa memperkenalkan Israel pada para berhala.
Maka dari sini kita bisa melihat dua dimensi tindakan Allah kepada manusia yakni pada satu sisi Ia adalah Allah yang penuh belas kasihan dan sisi lainnya adalah keadilan Allah pada mereka yang fasik serta berpaling dari-Nya. Sebagai manusia kita diundang untuk beriman penuh akan waktu dan kebijaksanaan Allah yang tetap untuk selama-lamanya. Mungkin tindakan-Nya tidak sesuai dengan waktu serta kesempatan yang kita harapkan, tetapi waktu Tuhan tidak pernah salah. Bagian kita adalah menjalani kehidupan dengan mawas diri dan penuh ketaatan kepada sabda-Nya. Orang-orang fasik dan serong itu pasti akan mendapat ganjaran dari-Nya.
























