Pernahkah kita memperlakukan firman seperti menu: mengambil bagian yang kita sukai dan melewatkan bagian yang terasa tidak nyaman? Kita senang mendengar kata-kata yang menguatkan dan memberi harapan. Namun, kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang ingin kita dengar. Ada kalanya, justru melalui kata-kata yang mengusik, kita diajak melihat sesuatu dalam diri yang selama ini enggan kita akui.
Yeremia 36:1-32 memperlihatkan Raja Yoyakim yang mendengar firman Tuhan melalui gulungan yang dibacakan Yehudi. Namun, setiap kali bagian tertentu selesai dibacakan, ia memotongnya dengan pisau raut dan membakarnya. Ia menolak pesan yang berbicara tentang kejahatan dan penghukuman. Barangkali, bagi Yoyakim, lebih mudah menghancurkan kata-kata itu daripada membiarkan kata-kata tersebut mengubah dirinya.
Sahabat Alkitab, kita pun dapat berada dalam situasi yang serupa. Kita menyukai ayat tentang penghiburan dan berkat, tetapi mungkin menghindari firman yang berbicara tentang pertobatan, tanggung jawab, atau perubahan. Bahkan, tanpa sadar, gereja dapat lebih sering menyampaikan apa yang ingin didengar umat daripada apa yang perlu mereka dengar. Padahal, firman Tuhan bukan sekadar cermin untuk melihat diri kita seperti yang kita inginkan, melainkan juga cermin yang menunjukkan bagian diri yang perlu dibenahi. Ketika kita berani menerima bahkan bagian yang mengusik, kita memberi ruang bagi firman untuk mengubah kita.
























