Pengepungan Yerusalem oleh Nebukadnezar, Raja Babel, dimulai pada tahun kesembilan pemerintahan Raja Zedekia. Kota ini dikepung selama kurang lebih 1,5 - 3 tahun. Peristiwa ini sebenarnya telah lama digaungkan oleh para nabi Allah. Semuanya diizinkan Allah untuk terjadi sebagai konsekuensi ketidaktaatan Yehuda serta sebagai bagian dari didikan-Nya kepada umat. Sayangnya banyak orang Yehuda memilih untuk menolak berita tersebut. Mereka menganggap bahwa Bait Allah dan kota suci-Nya tidak dapat dihancurkan oleh bangsa kafir. Bahkan Yeremia dituduh sebagai pengkhianat dan hampir kehilangan nyawanya saat menubuatkan kejatuhan Yehuda.
Kini malapetaka itu betul-betul terjadi. Pasukan Babel yang perkasa itu memasuki Yerusalem. Meluluhlantakkan kota dan membakarnya. Barang-barang ritual peribadahan dijarah dan diangkut ke Babel sebagai rampasan perang. Tahukah saudara apa yang dilakukan oleh Raja Zedekia saat krisis itu terjadi? Zedekia kabur bersama dengan bala tentaranya, meninggalkan rakyat yang seharusnya dijaga serta dilindunginya. Syukur kepada Allah bahwa bangsa Yehuda tetap dilindungi Allah meskipun beragam krisis hadir dalam kehidupan mereka.
Sahabat Alkitab, kehidupan dan kesukacitaan memang seringkali datang silih berganti dengan tantangan serta pergumulan. Dalam sukacita kita mudah menggapai rasa syukur itu, tetapi dalam tantangan serta pergumulan rasanya begitu sulit. Seperti Zedekia mungkin kita juga ingin lari dan meninggalkan segala tanggung jawab kita. Namun Tuhan ingin kita berjuang dan menghadapi tantangan dengan bersandar penuh kepada-Nya. Sebagaimana Yehuda yang dibentuk oleh tantangan dan pergumulan, bisa saja itulah cara Tuhan untuk juga membentuk kita. Marilah kita menyadari hal tersebut dan tetap berjuang dalam kehidupan kita masing-masing.

























