Manusia dibekali dengan kemampuan berbahasa untuk mengekspresikan apa yang dirasakan serta dipikirkannya. Namun terkadang bahasa terbatas untuk mengungkapkan makna dan apa yang kita rasakan sesungguhnya. Seperti misalnya saat kita tengah dirundung berbagai masalah dan pergumulan yang begitu hebatnya, dalam situasi tersebut mungkin saja kata yang tercetus untuk menggambarkan pengalaman kita adalah sesak, terhimpit, dan hancur.
Yeremia tengah mengalami pergumulan yang begitu berat. Sebelum Babel menyerang, ia hendak dihabisi oleh Raja serta rakyat Yehuda. Setelah Babel datang dan menaklukkan Yehuda, ia menjadi tawanan perang bersama dengan rakyat Yehuda lainnya. Namun, di Rama, Nebuzaradan (kepala pengawal raja Babel) mengenali identitas Yeremia. Entah bagaimana Nebuzaradan seolah-olah menjadi “juru bicara-Nya” dengan berkata bahwa apa yang menimpa Yerusalem merupakan dosa umat Israel terhadap Tuhan. Setelah itu ia membebaskan Yeremia dan menyuruhnya untuk memilih antara ke Babel dengan jaminan perlakuan baik atau tetap tinggal di tanah airnya. Yeremia kemudian memilih untuk tetap tinggal di tanah airnya dan bergabung bersama sisa-sisa rakyat yang malang. Kemudian Babel menetapkan Yehuda sebagai provinsi baru dan mengangkat Gedalya anak Ahikam sebagai gubernur wilayah tersebut.
Dalam sebuah lagu rohani kita mengingat bahwa “jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat. Namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat.” Bukankah itu juga yang dapat kita refleksikan melalui bacaan kali ini? Kehidupan memang seringkali menghantam kita begitu kerasnya, tetapi bukankah justru pada titik itulah kita semakin diundang untuk merasakan kasih setia Tuhan. Maka janganlah pernah ragukan pertolongan Tuhan. Ia selalu hadir dan berkarya. Suatu saat Ia akan membebaskan kita. Itulah pengharapan yang menarik kita kepada kehidupan yang kekal.
























