Sering kali bagi kita, masalah dalam hidup datang bukan karena kita tidak tahu apa yang benar, melainkan karena kita berkompromi dan menghiraukan kebenaran. Kita cenderung diam di hadapan ketidakbenaran serta ketidaktaatan yang terjadi. Kita takut kehilangan segala stabilitas hidup yang telah kita miliki sebelumnya. Maka janganlah menunda panggilan untuk datang melekat kepada Allah.
Yeremia 52 mencatat kehancuran Yerusalem dengan sangat rinci. Kota dikepung, rakyat kelaparan, Bait Suci dibakar, perkakas-perkakasnya dijarah dan ditimbang seperti logam biasa, dan ribuan orang diangkut ke pembuangan. Raja Zedekia ditangkap. Anak-anaknya dibunuh di depan matanya, lalu matanya dibutakan. Sungguh tragis. Padahal, Zedekia bukan raja yang tidak pernah mendengar firman Tuhan. Ia beberapa kali diam-diam bertanya kepada Yeremia. Ia bahkan mendengar jalan keselamatan yang jelas: “Dengarkanlah kiranya suara TUHAN… supaya keadaanmu baik dan nyawamu terpelihara” (Yer 38:20). Tetapi ia lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan.
Pasal ini juga mengingatkan kita bahwa firman Tuhan dapat dipercaya. Semua yang diperingatkan Yeremia sungguh terjadi, termasuk tentang Bait Suci yang dibanggakan dan perkakas-perkakasnya yang diangkut ke Babel. Namun firman yang sama juga berisi janji: Tuhan akan memperhatikan umat-Nya dan membawa mereka pulang (Yer 27:22; 29:10–11). Bahkan dari keturunan imam Seraya yang dibunuh di Ribla, kelak Tuhan membangkitkan Ezra untuk memulihkan umat-Nya. Hari-hari puasa yang lahir dari peristiwa ini pun dijanjikan Tuhan akan menjadi hari-hari sukacita (Za 8:19).
Firman ini mengajak kita untuk bertanya: Apakah selama ini kita telah tunduk di dalam firman-Nya? Jangan menunggu sampai semuanya terlambat, seperti halnya bangsa Yehuda yang tanah kediamannya berubah jadi puing. Taatilah selagi masih ada kesempatan. Dan bagi kita yang sedang berada di tengah puing-puing kehidupan, ingatlah bahwa Tuhan yang setia pada firman-Nya juga setia pada janji pemulihan-Nya.
























