Jalan Tuhan memang sungguh tidak terselami. Kita betul-betul tidak mengetahui apa yang sebenarnya akan ia kerjakan dalam hidup kita. Saat pergumulan datang melanda seringkali rasanya begitu sunyi. Seolah-olah Tuhan tidak hadir. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah cara kerja Tuhan yang begitu misterius dan jalan terbentang yang terus dikerjakan-Nya.
Raja Yoyakhin dibuang ke Babel ketika berusia delapan belas tahun, dan ia menghabiskan tiga puluh tujuh tahun di penjara. Kitab Yeremia sebelumnya ditutup dengan kisah kehancuran Yerusalem dan daftar ribuan orang buangan. Rasanya tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Namun di ayat-ayat terakhir kitab ini, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Raja Babel yang baru membebaskan Yoyakhin dari penjara, berbicara ramah kepadanya, memberinya kursi kehormatan, mengganti pakaian penjaranya, dan mengundangnya makan di meja raja. Setiap hari ia menerima tunjangan, sampai akhir hidupnya.
Anugerah itu sederhana. Yoyakhin tidak pulang ke Yerusalem. Ia tidak kembali menjadi raja. Tetapi martabatnya dipulihkan, dan hidupnya dipelihara hari demi hari. Lebih dari itu, Alkitab menunjukkan bahwa kisahnya tidak berhenti di Babel. Cucunya, Zerubabel, memimpin umat pulang ke tanah perjanjian.
Firman ini menghibur kita yang sedang menunggu lama pembebasan dan kelepasan dari Tuhan. Tuhan sering kali tidak langsung mengubah seluruh keadaan kita, tetapi Ia setia memelihara hidup kita setiap hari. Kasih-Nya tiada berkesudahan setiap hari. Seiring dengan sinar fajar merekah, demikianlah kasih Tuhan selalu dinyatakan dalam setiap hari kita. Marilah kita tetap setia menanti pengharapan dan pertolongan dari Tuhan.
























