Yerusalem pernah menjadi kota yang ramai, pusat kehidupan bangsa Yehuda, sekaligus tempat Bait Allah berdiri sebagai lambang kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Namun, semua itu berubah ketika pasukan Babel menaklukkan kota itu pada 587/586 SM. Tembok-temboknya dihancurkan, Bait Allah dijarah dan dibakar, sementara banyak penduduknya dibawa ke pembuangan. Sebagian lainnya harus bertahan di tanah yang telah porak-poranda. Kota yang dahulu menjadi kebanggaan kini menyisakan reruntuhan dan kenangan tentang kejayaan yang tak lagi mereka miliki.
Dari tengah kehancuran itulah kitab Ratapan menyuarakan dukacita. Kitab ini terdiri atas lima puisi yang meratapi kehancuran Yerusalem dan penderitaan yang mengikutinya. Tidak seperti kitab-kitab yang menyampaikan pengharapan melalui janji pemulihan, Ratapan memberi ruang bagi kesedihan, kehilangan, bahkan pertanyaan-pertanyaan iman yang tidak mudah dijawab. Suara orang-orang yang berduka tidak disembunyikan di balik kata-kata penghiburan. Mereka diberi ruang untuk mengungkapkan kenyataan yang menyakitkan di hadapan Allah.
Ratapan 1 dibuka dengan seruan, “Ah, betapa terpencilnya kota itu, yang dahulu ramai!” (ay. 1). Kata Ibrani ‘ekhah merupakan seruan dukacita yang kuat, seolah-olah penyair sedang berhadapan dengan kenyataan yang sulit dipercaya. Yerusalem digambarkan seperti janda yang ditinggalkan dan seorang ratu yang kehilangan kedudukannya. Jalan-jalan menuju Sion lenggang, gerbang-gerbangnya rusak, para pemimpinnya kehilangan daya, dan penduduknya mengalami kelaparan. Pengulangan kata “semua” dalam pasal ini turut menegaskan betapa luasnya kehancuran yang dialami.
Kontras antara masa lalu dan masa kini menjadi cara penyair mengungkapkan besarnya kehilangan. Namun, ratapan ini tidak sekadar merindukan kejayaan yang telah berlalu. Penyair juga mengakui bahwa kehancuran itu berkaitan dengan ketidaksetiaan umat kepada Allah (ay. 5). Kenangan tentang masa lalu, dengan demikian, tidak menghapus kenyataan pahit yang sedang dihadapi.
Sahabat Alkitab, kehilangan seringkali membuat kita menoleh ke belakang, mengingat keadaan ketika hidup terasa lebih utuh dan masa depan tampak lebih menjanjikan. Namun, mengenang bukan berarti kita harus terus tinggal di masa lalu. Kita dapat mensyukuri apa yang pernah bermakna, berduka atas apa yang telah hilang, sekaligus berani mengakui hal-hal yang perlu diperbaiki. Ratapan mengingatkan kita bahwa iman tidak selalu dimulai dengan jawaban atau penghiburan. Terkadang, iman dimulai ketika kita berani menyebut kehancuran sebagai kehancuran, membawa dukacita ke hadapan Allah, dan tetap bersedia menghadapi kenyataan, sekalipun kita belum tahu ke mana perjalanan ini akan membawa kita.
























