Bencana alam dan peperangan dapat mengubah kehidupan manusia dalam sekejap. Rumah hancur, mata pencaharian hilang, dan rasa aman yang selama ini dimiliki mendadak runtuh. Di tengah keadaan demikian, manusia berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya. Lantas, bagaimana kita memahami kehadiran dan kuasa Allah di tengah krisis?
Pergumulan serupa dialami umat Yehuda yang dibuang ke Babel. Jauh dari tanah air dan Bait Allah, mereka kehilangan banyak hal yang selama ini menopang identitas dan iman mereka. Namun, di tengah pembuangan, Yehezkiel justru menerima penglihatan tentang kemuliaan TUHAN.
Dalam penglihatannya, Yehezkiel melihat roda-roda yang bergerak mengikuti makhluk-makhluk hidup, dengan lingkaran yang penuh mata (ay. 15-21). Roda-roda tersebut menjadi bagian dari gambaran takhta ilahi yang dapat bergerak, menyiratkan bahwa kehadiran Allah tidak terikat pada satu tempat. Di atas makhluk-makhluk itu terbentang sesuatu seperti cakrawala, lalu tampak takhta dengan sosok menyerupai manusia yang dikelilingi cahaya seperti api dan pelangi (ay. 22-28). Takhta tersebut menegaskan kedaulatan Allah yang melampaui kekuasaan manusia. Sekalipun Babel menguasai kehidupan umat Yehuda, kekuasaan itu bukanlah kuasa tertinggi. Allah tetap berdaulat, bahkan ketika umat-Nya berada dalam pembuangan.
Bagi para korban bencana dan peperangan, krisis dapat berkembang menjadi tragedi kemanusiaan yang mengguncang seluruh kehidupan. Kehilangan orang-orang terkasih, tempat tinggal, dan sumber penghidupan dapat menimbulkan trauma psikologis, krisis identitas, serta ketidakpastian akan masa depan. Ketika sistem perlindungan melemah, kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak, juga menghadapi ancaman kekerasan dan eksploitasi. Karena itu, mengimani kuasa Allah tidak berarti mengabaikan penderitaan. Iman justru memanggil kita untuk menunjukkan empati, memberikan pertolongan, dan memperjuangkan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan.
Sahabat Alkitab, dalam kadar yang berbeda, kita pun tidak kebal terhadap krisis. Ada masa ketika kehidupan terasa bergerak tanpa arah, sementara kita tidak mampu mengubah keadaan atau memahami segala sesuatu yang terjadi. Penglihatan Yehezkiel mengingatkan bahwa keterbatasan manusia bukanlah batas bagi kuasa Allah. Kita mungkin tidak selalu memperoleh jawaban atau menyaksikan keadaan segera membaik. Namun, di tengah ketidakpastian, kita tetap dapat berharap kepada-Nya, sembari menghadirkan kepedulian nyata bagi sesama yang sedang bergumul.
























