Dalam menjalani panggilan pelayanan, seseorang tidak serta-merta kehilangan keterbatasannya sebagai manusia. Ia dapat merasa lelah, mengalami kekecewaan, bahkan melakukan kesalahan. Karena itu, ungkapan “pendeta juga manusia” kerap mengingatkan kita agar tidak menuntut kesempurnaan dari mereka yang melayani. Namun, memahami keterbatasan seseorang tidak berarti membenarkan setiap tindakannya. Di manakah batas antara memberi ruang bagi kelemahan manusia dan menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan?
Pergulatan antara keterbatasan dan tanggung jawab itu dapat kita renungkan melalui panggilan Yehezkiel. Setelah tersungkur di hadapan kemuliaan TUHAN, ia diperintahkan untuk berdiri. Allah menyapanya sebagai “anak manusia”, yang menegaskan keberadaannya sebagai manusia di hadapan Sang Mahakuasa. Namun, Yehezkiel tidak berdiri hanya dengan kekuatannya sendiri. Roh meliputinya dan membuatnya mampu berdiri untuk mendengarkan firman Allah. Panggilan itu tidak menghapus keterbatasannya, tetapi memberinya kekuatan untuk menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Tugas tersebut bukanlah tugas yang mudah. Yehezkiel diutus kepada bangsa yang keras kepala dan memberontak. Ia harus menyampaikan firman Allah, sekalipun umat itu bersedia mendengarkan ataupun menolaknya. Namun, sebelum berhadapan dengan pemberontakan umat, Yehezkiel sendiri mendapat peringatan agar tidak memberontak (ay. 8). Ia kemudian diperlihatkan sebuah gulungan kitab yang berisi ratapan, keluh kesah, dan rintihan. Firman yang dipercayakan kepadanya bukan selalu pesan yang menyenangkan, melainkan juga suara yang mengungkapkan kepedihan dan kenyataan yang tidak mudah diterima.
Di hadapan panggilan itu, Yehezkiel bukan hanya diminta berani menghadapi penolakan, tetapi juga bersedia menundukkan dirinya pada firman yang harus disampaikannya. Bukankah kita pun kerap lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada mengakui kesalahan sendiri? Kita dapat berdiri teguh ketika menegur, tetapi goyah ketika teguran itu berbalik kepada diri kita. Padahal, firman yang kita sampaikan kepada orang lain semestinya juga mendapat tempat dalam hati kita sendiri, menyingkapkan apa yang perlu dibenahi dan menuntun kita untuk berubah.
Sahabat Alkitab, setiap manusia memiliki keterbatasan yang patut disikapi dengan pengertian dan belas kasih. Ada luka, kelelahan, dan pergumulan yang mungkin menjelaskan mengapa seseorang bertindak dengan cara tertentu. Namun, memahami alasan di balik suatu tindakan tidak selalu berarti membenarkan akibat yang ditimbulkannya. Memang, tidak semua keadaan dapat kita ubah, dan tidak setiap luka dapat segera dipulihkan. Namun, selalu ada ruang untuk belajar menentukan langkah berikutnya, betapapun kecilnya. Ketika kita keliru, kiranya kita memiliki kerendahan hati untuk mengakuinya, keberanian untuk menerima koreksi, dan kesediaan untuk memperbaiki apa yang masih mungkin diperbaiki. Sebab, Allah yang memampukan Yehezkiel berdiri di tengah keterbatasannya juga menyertai kita dalam proses belajar, bertumbuh, dan memperbarui diri.

























