Kehadiran pengalaman hidup yang tidak menyenangkan memang dapat memberikan perdebatan yang unik. Ada sebagian orang yang meyakini bahwa pergumulan yang dialami oleh seseorang merupakan hasil dari kesalahan atau keberdosaannya kepada TUHAN. Namun, ada orang yang meyakini bahwa kemunculan pengalaman pahit tidak ada hubungannya dengan baik-buruknya sebuah perilaku. Mereka mendasari hal ini di atas fakta pengalaman hidup setiap orang yang memiliki masalahnya masing-masing, entah mereka yang sering berbuat kebajikan maupun kelaliman.
Pernyataan yang TUHAN sampaikan dalam bagian ini pun memberikan kita sebuah pelajaran tentang makna pergumulan dan pembebasan berdasarkan kisah hidup bangsa Israel. Pada ayat 21 tergambarkan bahwa pengalaman pahit dirasakan oleh bangsa Israel adalah hasil dari keberdosaannya kepada TUHAN. Namun, pada ayat-ayat selanjutnya kita justru melihat bahwa pengalaman pahit tersebut tidak berhenti sebagai aksi retribusi dari TUHAN, melainkan sebagai sebuah proses pendidikan yang TUHAN hadirkan sebagai pemberdayaan bagi mereka sendiri. Artinya, TUHAN tidak membiarkan umat menghidupi pengalaman yang hampa atau bahkan membawa mereka kepada kesia-siaan. TUHAN selalu berkarya untuk membawa umat mengalami perkembangan, sekalipun itu harus terjadi dalam sebuah pengalaman konsekuensi yang disebabkan oleh perilaku umat itu sendiri.
Sahabat Alkitab, setiap bentuk pengalaman yang kita dapatkan di sepanjang sejarah perjalanan kehidupan ini selalu memiliki nilai yang berguna untuk membawa kita mengalami peningkatan kualitas diri. Secara khusus, pada saat kita hidup bersama TUHAN, Ia akan terus memberikan bimbingan dan didikan bagi kita dalam menjalani pengalaman penuh suka maupun pengalaman dalam luka. Itulah sebabnya, entah pengalaman sukacita maupun pengalaman penuh luka idealnya perlu kita jalani sebagai momen untuk bertumbuh di dalam TUHAN.