Pada saat kita merasa kehidupan tanpa atau minim masalah, kehidupan pun cenderung terasa begitu menyenangkan untuk jalani. Namun, beda halnya ketika kita merasa terlalu banyak pergumulan yang hadir. Alhasil, berbagai konsep tentang kehadiran TUHAN dan pertolongan dari-Nya pun terkesan menjadi begitu abstrak untuk diterima oleh akal, bahkan oleh iman kita. Inilah momen krusial yang perlu digumuli secara serius oleh setiap umat. Pasalnya, pergumulan yang datang silih berganti sangat mudah menjadi kabut pekat yang menghalangi pandangan iman setiap orang percaya untuk melihat kehadiran TUHAN dalam hidupnya.
Musa pun kembali mengingatkan bangsa Israel mengenai pengalaman pada saat mereka menolak untuk melanjutkan proses menggapai berkat TUHAN. Hal ini adalah hasil dari ketakutan mereka pasca mengetahui keberadaan orang-orang Amori, para penduduk terdahulu tanah yang akan mereka klaim. Nampaknya, mereka tidak pernah membayangkan perlu memasuki sebuah wilayah dengan penduduk dan sistem tata kota yang begitu mapan. Alhasil, mereka menjadi tawar hati dan memilih untuk lari dari proses pembentukan TUHAN.
Sahabat Alkitab, ketakutan dalam menjalani kehidupan memang salah satu wujud emosi yang sangat wajar untuk dirasakan oleh seorang manusia. Namun, kita perlu mawas diri agar tidak terjerembap di dalam kubangan ketakutan yang justru akan semakin menghisap kita ke dalamnya. Ketakutan menghadapi kenyataan hidup, termasuk pergumulan maupun kondisi hidup lain yang tidak menyenangkan, tidak hanya dapat menghambat pertumbuhan diri tetapi juga mampu mengaburkan pandangan iman untuk melihat dan merasakan kehadiran TUHAN. Itulah mengapa, Musa begitu penuh perhatian untuk mendampingi orang Israel yang mengalami ketakutan menghadapi orang Amori. Ketakutan pada diri orang Israel tidak hanya menghambat perjalanan mereka menuju tanah perjanjian, melainkan juga membuat mereka melupakan bukti karya TUHAN yang sudah terjadi maupun segala janji penyertaan yang TUHAN sediakan.
Sahabat Alkitab, berdasarkan perikop ini terdapat beberapa langkah konkret awal yang dapat dilakukan pada saat kita mengalami ketakutan atau keraguan untuk menghadapi kenyataan hidup, yakni: Pertama, berdialoglah dengan TUHAN; Kedua, ingat dan buatlah daftar pertolongan atau karya-karya TUHAN yang sudah kita alami; Ketiga; resapilah janji TUHAN melalui pembacaan Alkitab; Keempat, lanjutkanlah langkah kehidupan untuk menghadapi kenyataan pahit tersebut. Kiranya kasih dan janji TUHAN menguatkan setiap hati yang sedang tawar hati menghadapi kerasnya kenyataan hidup.